Rabu, 06 Januari 2010

Budaya Tionghoa Perkaya Budaya Nasional

Indonesia adalah bangsa yang kaya dengan keragaman budayanya. Kita masing-masing perlu melestarikan, mengembangkan budaya komunitas untuk memperkaya kebudayaan nasional. Seni budaya harus disertai sikap dan orientasi budaya. Sikap budaya masih merupakan tantangan. Maju atau tidak, atau ketinggalan atau tidak, sikap budaya ini sangat menentukan.

Demikian pemikiran yang mengemuka ketika Pemerhati Masalah Kebangsaan Siswono Yudo Husodo dan Pemimpin Umum Harian Kompas Jakob Oetama menyampaikan sambutan pada pembukaan Pameran Warisan Tinghoa Peranakan, Kamis (15/1) malam di Bentara Budaya Jakarta (BBJ).

Siswono Yudo Husodo mengatakan, masyarakat Tinghoa sudah datang ke Indonesia sejak 1000 tahun lebih. Mereka yang datang tidak homogen. Mereka datang dari suku, bahasa, dan budaya yang beragam. Karena yang datang beragam dan yang didatangi juga beragam, maka akulturasi yang terjadi di situ menghasilkan kebudayaan Tionghoa peranakan yang beragam. Akulturasi antara pendatang Tionghoa dengan masyarakat setempat dalam varian kehidupan yang sangat luas.

Betapa kayanya bangsa ini. Mengindonesia belum selesai. Kita masih dalam taraf test case membentuk bangsa kita. Karena memang luar biasa, hampir tidak ada teori yang membenarkan bangsa yang beragam i ni bisa mengaku satu bangsa. Berbeda dengan bangsa Jerman, yang menyatu karena satu bahasa. Begitu juga Inggris, Perancis, Spanyol, dan bangsa Italia menjadi satu kerana kesamaan bahasa. Atau Malaysia, Singapura, dan Srilanka karena kesamaan kontinen daratan, katanya.

Menurut Siswono, dengan segala kekurangan dan kelebihannya, kebudayaan Tinghoa yang datang ke Indonesia telah ikut memperkaya kebudayaan nasional kita. Dan sebaliknya, kebudayaan lokal ikut memperkaya kebudayaan para pendatang itu. Sehingga dengan demikian, ciri-ciri kebudayaan Tinghoa peranakan di Indonesia jauh lebih kaya dari budaya Tinghoa perantauan Tionghoa peranakan di Singapura dan Malaysia.

Sementara menurut Jakob Oetama, kekayaan budaya Indonesia yang beragam itu, sekaligus menegaskan bahwa B hineka Tunggal Ika tetap aktual dalam perubahan zaman. Indonesia akan tetap Bhineka Tunggal Ika.

Malam ini (Pameran Budaya Tinghoa Peranakan) luar biasa. Bagi saya, asosiasi (Komunitas Lintas Budaya Indonesia) yang spontan itu Bhineka Tunggal Ika, katanya.

Menurut Jakob, seni budaya harus disertai sikap dan orientasi budaya, yaitu nilai-nilai sikap hidup yang bisa mengembangkan bukan saja seni budaya tetapi juga sumber kekayaan alam, untuk kesejahteraan. Seni budaya sangat oke, tinggal memelihara. Sikap budaya, lanjutnya, masih merupakan tantangan. Maju atau tidak, atau ketinggalan atau tidak, sikap budaya ini, sangat menentukan.

Kebudayaan jawa

Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan yang memiliki lingkungan geografis yang sangat kompleks, terdiri dari lebih 17.000 buah pulau-pulau besar kecil, yang semua satu sama lainnya dipisahkan oleh selat-selat dan lautan yang sangat luas. Lingkungan geografis ini akan semakin kompleks lagi apabila kita lihat pada pulau-pulau yang besar, adanya danau yang luas, sungai yang lebar, pegunungan yang tinggi, hutan yang lebat, dan lain sebagainya.

Lingkungan geografis semacam itulah yang menjadi salah satu faktor utama terbentuknya aneka macam suku bangsa, budaya, dan bahasa. Bahkan berdasarkan keanekaragaman bahasa ini, para ahli antropologi memperkirakan bahwa diIndonesia terdapat hampir 250 suku bangsa yang lainnya.

Suku bangsa Jawa adalah suku bangsa yang mendiami pulau Jawa bagian tengah dan timur, serta daerah-daerah yang disebut kejawen sebelum terjadi perubahan seperti sekarang ini. Daerah itu ialah Banyumas, Kedu, Yogyakarta, Surakarta, Madiun, Malang, dan Kediri, sedang daerah di luar ini dinamakan pesisir dan ujung timur. Daerahyang merupakan pusat kebudayaan Jawa adalah 2 daerah yang luas bekas Kerajaan Mataram, yaitu Yogyakarta dan Surakarta yang terpecah pada tahun 1755. Sekian banyak daerah tempat kediaman orang Jawa ini terdapat berbagai variasi dan perbedaan-perbedaanyang bersifat lokal dalam beberapa unsur kebudayaannya seperti perbedaan mengenai berbagai istilah teknis, dialek bahasa, dan lain-lain. Namun tidak menunjukkan perbedaanyang besar, sebab masih menunjukkan satu pola atau satu sistem kebudayaan Jawa.


KEBUDAYAAN JAWA


IDENTIFIKASI
Daerah Kebudayaan Jawa bukanlah meliputi seluruh Pulau Jawa. Namun hanya meliputi seluruh bagian tengah dan timur dari Pulau Jawa. Dua daerah pecahan Kerajaan Mataram yaitu Surakarta dan Yogyakarta merupakan pusat dari Kebudayaan Jawa. Dalam hal bahasa yang digunakan, berdasarkan kriteria tingkatannya orang Jawa mengenal dua macam bahasa Jawa. Yaitu bahasa Jawa Ngoko dan Krama.
Jumlah penduduk Jawa Tengah, Jawa Timur dan Madura menurut angka sensus 1930 adalah 30.321.000 jiwa dengan padat penduduk rata-rata 402 per km², sedangkan lebihdari 30 tahun kemudian, ialah menurut angka sensus tahun 1961, penduduk ketiga daerah tersebut adalah 42.471.000 jiwa, dengan padat penduduk rata-rata 567 per km².

JAWA TENGAH
Jawa Tengah adalah sebuah NDAHULUAN

Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan yang memiliki lingkungan geografis yang sangat kompleks, terdiri dari lebih 17.000 buah pulau-pulau besar kecil, yang semua satu sama lainnya dipisahkan oleh selat-selat dan lautan yang sangat luas. Lingkungan geografis ini akan semakin kompleks lagi apabila kita lihat pada pulau-pulau yang besar, adanya danau yang luas, sungai yang lebar, pegunungan yang tinggi, hutan yang lebat, dan lain sebagainya.

Lingkungan geografis semacam itulah yang menjadi salah satu faktor utama terbentuknya aneka macam suku bangsa, budaya, dan bahasa. Bahkan berdasarkan keanekaragaman bahasa ini, para ahli antropologi memperkirakan bahwa diIndonesia terdapat hampir 250 suku bangsa yang lainnya.

Suku bangsa Jawa adalah suku bangsa yang mendiami pulau Jawa bagian tengah dan timur, serta daerah-daerah yang disebut kejawen sebelum terjadi perubahan seperti sekarang ini. Daerah itu ialah Banyumas, Kedu, Yogyakarta, Surakarta, Madiun, Malang, dan Kediri, sedang daerah di luar ini dinamakan pesisir dan ujung timur. Daerahyang merupakan pusat kebudayaan Jawa adalah 2 daerah yang luas bekas Kerajaan Mataram, yaitu Yogyakarta dan Surakarta yang terpecah pada tahun 1755. Sekian banyak daerah tempat kediaman orang Jawa ini terdapat berbagai variasi dan perbedaan-perbedaanyang bersifat lokal dalam beberapa unsur kebudayaannya seperti perbedaan mengenai berbagai istilah teknis, dialek bahasa, dan lain-lain. Namun tidak menunjukkan perbedaanyang besar, sebab masih menunjukkan satu pola atau satu sistem kebudayaan Jawa.


KEBUDAYAAN JAWA


IDENTIFIKASI
Daerah Kebudayaan Jawa bukanlah meliputi seluruh Pulau Jawa. Namun hanya meliputi seluruh bagian tengah dan timur dari Pulau Jawa. Dua daerah pecahan Kerajaan Mataram yaitu Surakarta dan Yogyakarta merupakan pusat dari Kebudayaan Jawa. Dalam hal bahasa yang digunakan, berdasarkan kriteria tingkatannya orang Jawa mengenal dua macam bahasa Jawa. Yaitu bahasa Jawa Ngoko dan Krama.
Jumlah penduduk Jawa Tengah, Jawa Timur dan Madura menurut angka sensus 1930 adalah 30.321.000 jiwa dengan padat penduduk rata-rata 402 per km², sedangkan lebihdari 30 tahun kemudian, ialah menurut angka sensus tahun 1961, penduduk ketiga daerah tersebut adalah 42.471.000 jiwa, dengan padat penduduk rata-rata 567 per km².

Hari Besar Umat Hindu Bali

Hari Raya Nyepi

Hari Raya Nyepi dirayakan setiap tahun Baru Caka (pergantian tahun Caka). Yaitu pada hari Tilem Kesanga (IX) yang merupakan hari pesucian Dewa-Dewa yang berada di pusat samudera yang membawa inti sarining air hidup (Tirtha Amertha Kamandalu). Untuk itu umat Hindu melakukan pemujaan suci terhadap Dewa-Dewa tersebut.


Tujuan utama Hari Raya Nyepi adalah memohon kehadapan Tuhan Yang Mahaesa, untuk menyucikan Bhuwana Alit (alam manusia) dan Bhuwana Agung (alam semesta). Rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi adalah sebagai berikut :

1. Tawur (Pecaruan), Pengrupukan, dan Melasti.

Sehari sebelum Nyepi, yaitu pada "panglong ping 14 sasih kesanga" umat Hindu melaksanakan upacara Butha Yadnya di perempatan jalan dan lingkungan rumah masing-masing, dengan mengambil salahg satu dari jenis-jenis "Caru" menurut kemampuannya. Bhuta Yadnya itu masing-masing bernama; Panca Sata (kecil), Panca Sanak (sedang), dan Tawur Agung (besar).

Tawur atau pecaruan sendiri merupakan penyucian/pemarisudha Bhuta Kala, dan segala 'leteh' (kotor), semoga sirna semuanya.

Caru yang dilaksanakan di rumah masing-masing terdiri dari; nasi manca warna (lima warna) berjumlah 9 tanding/paket, lauk pauknya ayam brumbun (berwarna-warni) disertai tetabuhan arak/tuak. Bhuta Yadnya ini ditujukan kepada Sang Bhuta Raja, Bhuta Kala dan Bhatara Kala, dengan memohon supaya mereka tidak mengganggu umat.

Setalah mecaru dilanjutkan dengan upacara pengerupukan, yaitu : menyebar-nyebar nasi tawur, mengobori-obori rumah dan seluruh pekarangan, menyemburi rumah dan pekarangan dengan mesui, serta memukul benda-benda apa saja (biasanya kentongan) hingga bersuara ramai/gaduh. Tahapan ini dilakukan untuk mengusir Bhuta Kala dari lingkungan rumah, pekarangan, dan lingkungan sekitar.

Khusus di Bali, pada pengrupukan ini biasanya dimeriahkan dengan pawai ogoh-ogoh yang merupakan perwujudan Bhuta Kala yang diarak keliling lingkungan, dan kemudian dibakar. Tujuannya sama yaitu mengusir Bhuta Kala dari lingkungan sekitar.

Selanjutnya dilakukan Melasti yaitu menghanyutkan segala leteh (kotor) ke laut, serta menyucikan "pretima". DIlakukan di laut, karena laut (segara) dianggap sebagai sumber Tirtha Amertha (Dewa Ruci, dan Pemuteran Mandaragiri). Selambat-lambatnya pada Tilem sore, pelelastian sudah selesai.

2. Nyepi

Keesoka harinya, yaitu pada "panglong ping 15" (Tilem Kesanga), tibalah Hari Raya Nyepi. Pada hari ini dilakukan puasa/peberatan Nyepi yang disebut Catur Beratha Penyepian dan terdiri dari; amati geni (tiada berapi-api/tidak menggunakan dan atau menghidupkan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan). Beratha ini dilakukan sejak sebelum matahari terbit.

Menurut umat Hindu, segala hal yang bersifat peralihan, selalu didahului dengan perlambang gelap. Misalnya seorang bayi yang akan beralih menjadi anak-anak (1 oton/6 bulan), lambang ini diwujudkan dengan 'matekep guwungan' (ditutup sangkat ayam). Wanita yang beralih dari masa kanak-kanak ke dewasa (Ngeraja Sewala), upacaranya didahului dengan ngekep (dipingit).

Demikianlah untuk masa baru, ditempuh secara baru lahir, yaitu benar-benar dimulai dengan suatu halaman baru yang putih bersih. Untuk memulai hidup dalam caka/tahun barupun, dasar ini dipergunakan, sehingga ada masa amati geni.

Yang lebih penting dari dari pada perlambang-perlambang lahir itu (amati geni), sesuai dengan Lontar Sundari Gama adalah memutihbersihkan hati sanubari, dan itu merupakan keharusan bagi umat Hindu.

Tiap orang berilmu (sang wruhing tatwa dnjana) melaksanakan; Bharata (pengekangan hawa nafsu), yoga ( menghubungkan jiwa dengan paramatma (Tuhan), tapa (latihan ketahanan menderita), dan samadhi (menunggal kepada Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi), yang bertujuan kesucian lahir bathin).

Semua itu menjadi keharusan bagi umat Hindu, sehingga akan mempunyai kesiapan bathin untuk menghadapi setiap tantangan kehidupan di tahun yang baru. Kebiasaan merayakan Hari Raya dengan berfoya-foya, berjudi, mabuk-mabukan adalah sesuatu kebiasaan yang keliru dan mesti dirubah.

3. Ngembak Geni (Ngembak Api)

Terakhir dari perayaan Hari Raya Nyepi adalah hari Ngembak Geni yang jatuh pada tangal ping pisan (1) sasih kedasa (X). Pada hari Inilah tahun baru Caka tersebut dimulai. Umat Hindu bersilahturahmi dengan keluarga besar dan tetangga, saling maaf memaafkan (ksama), satu sama lain.

Dengan suasana baru, kehidupan baru akan dimulai dengan hati putih bersih. Jadi kalau tahun masehi berakhir tiap tanggal 31 Desember dan tahun barunya dimulai 1 Januari, maka tahun Caka berakhir pada panglong ping limolas (15) sasih kedasa (X), dan tahun barunya dimulai tanggal 1 sasih kedasa (X).

Sejarah Batik Indonesia

Batik secara historis berasal dari zaman nenek moyang yang dikenal sejak abad XVII yang ditulis dan dilukis pada daun lontar. Saat itu motif atau pola batik masih didominasi dengan bentuk binatang dan tanaman. Namun dalam sejarah perkembangannya batik mengalami perkembangan, yaitu dari corak-corak lukisan binatang dan tanaman lambat laun beralih pada motif abstrak yang menyerupai awan, relief candi, wayang beber dan sebagainya. Selanjutnya melalui penggabungan corak lukisan dengan seni dekorasi pakaian, muncul seni batik tulis seperti yang kita kenal sekarang ini.

Jenis dan corak batik tradisional tergolong amat banyak, namun corak dan variasinya sesuai dengan filosofi dan budaya masing-masing daerah yang amat beragam. Khasanah budaya Bangsa Indonesia yang demikian kaya telah mendorong lahirnya berbagai corak dan jenis batik tradisioanal dengan ciri kekhususannya sendiri.

Perkembangan Batik di Indonesia
Sejarah pembatikan di Indonesia berkaitan dengan perkembangan kerajaan Majapahit dan kerajaan sesudahnya. Dalam beberapa catatan, pengembangan batik banyak dilakukan pada masa-masa kerajaan Mataram, kemudian pada masa kerajaan Solo dan Yogyakarta.

Kesenian batik merupakan kesenian gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan keluarga raja-raja Indonesia zaman dulu. Awalnya batik dikerjakan hanya terbatas dalam kraton saja dan hasilnya untuk pakaian raja dan keluarga serta para pengikutnya. Oleh karena banyak dari pengikut raja yang tinggal diluar kraton, maka kesenian batik ini dibawa oleh mereka keluar kraton dan dikerjakan ditempatnya masing-masing.
Dalam perkembangannya lambat laun kesenian batik ini ditiru oleh rakyat terdekat dan selanjutnya meluas menjadi pekerjaan kaum wanita dalam rumah tangganya untuk mengisi waktu senggang. Selanjutnya, batik yang tadinya hanya pakaian keluarga istana, kemudian menjadi pakaian rakyat yang digemari, baik wanita maupun pria.

Bahan kain putih yang dipergunakan waktu itu adalah hasil tenunan sendiri. Sedang bahan-bahan pewarna yang dipakai terdiri dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia yang dibuat sendiri antara lain dari : pohon mengkudu, tinggi, soga, nila, dan bahan sodanya dibuat dari soda abu, serta garamnya dibuat dari tanah lumpur.

Jadi kerajinan batik ini di Indonesia telah dikenal sejak zaman kerajaan Majapahit dan terus berkembang hingga kerajaan berikutnya. Adapun mulai meluasnya kesenian batik ini menjadi milik rakyat Indonesia dan khususnya suku Jawa ialah setelah akhir abad ke-XVIII atau awal abad ke-XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad ke-XX dan batik cap dikenal baru setelah usai perang dunia kesatu atau sekitar tahun 1920. Kini batik sudah menjadi bagian pakaian tradisional Indonesia.

Batik Pekalongan
Meskipun tidak ada catatan resmi kapan batik mulai dikenal di Pekalongan, namun menurut perkiraan batik sudah ada di Pekalongan sekitar tahun 1800. Bahkan menurut data yang tercatat di Deperindag, motif batik itu ada yang dibuat 1802, seperti motif pohon kecil berupa bahan baju.

Namun perkembangan yang signifikan diperkirakan terjadi setelah perang besar pada tahun 1825-1830 di kerajaan Mataram yang sering disebut dengan perang Diponegoro atau perang Jawa. Dengan terjadinya peperangan ini mendesak keluarga kraton serta para pengikutnya banyak yang meninggalkan daerah kerajaan. Mereka kemudian tersebar ke arah Timur dan Barat. Kemudian di daerah - daerah baru itu para keluarga dan pengikutnya mengembangkan batik.

Ke timur batik Solo dan Yogyakarta menyempurnakan corak batik yang telah ada di Mojokerto serta Tulungagung hingga menyebar ke Gresik, Surabaya dan Madura. Sedang ke arah Barat batik berkembang di Banyumas, Kebumen, Tegal, Cirebon dan Pekalongan. Dengan adanya migrasi ini, maka batik Pekalongan yang telah ada sebelumnya semakin berkembang.

Seiring berjalannya waktu, Batik Pekalongan mengalami perkembangan pesat dibandingkan dengan daerah lain. Di daerah ini batik berkembang di sekitar daerah pantai, yaitu di daerah Pekalongan kota dan daerah Buaran, Pekajangan serta Wonopringgo.
Perjumpaan masyarakat Pekalongan dengan berbagai bangsa seperti Cina, Belanda, Arab, India, Melayu dan Jepang pada zaman lampau telah mewarnai dinamika pada motif dan tata warna seni batik.

Sehubungan dengan itu beberapa jenis motif batik hasil pengaruh dari berbagai negara tersebut yang kemudian dikenal sebagai identitas batik Pekalongan. Motif itu, yaitu batik Jlamprang, diilhami dari Negeri India dan Arab. Lalu batik Encim dan Klengenan, dipengaruhi oleh peranakan Cina. Batik Belanda, batik Pagi Sore, dan batik Hokokai, tumbuh pesat sejak pendudukan Jepang.

Perkembangan budaya teknik cetak motif tutup celup dengan menggunakan malam (lilin) di atas kain yang kemudian disebut batik, memang tak bisa dilepaskan dari pengaruh negara-negara itu. Ini memperlihatkan konteks kelenturan batik dari masa ke masa.

Batik Pekalongan menjadi sangat khas karena bertopang sepenuhnya pada ratusan pengusaha kecil, bukan pada segelintir pengusaha bermodal besar. Sejak berpuluh tahun lampau hingga sekarang, sebagian besar proses produksi batik Pekalongan dikerjakan di rumah-rumah. Akibatnya, batik Pekalongan menyatu erat dengan kehidupan masyarakat Pekalongan yang kini terbagi dalam dua wilayah administratif, yakni Kotamadya Pekalongan dan Kabupaten Pekalongan.

Pasang surut perkembangan batik Pekalongan, memperlihatkan Pekalongan layak menjadi ikon bagi perkembangan batik di Nusantara. Ikon bagi karya seni yang tak pernah menyerah dengan perkembangan zaman dan selalu dinamis. Kini batik sudah menjadi nafas kehidupan sehari-hari warga Pekalongan dan merupakan salah satu produk unggulan. Hal itu disebabkan banyaknya industri yang menghasilkan produk batik. Karena terkenal dengan produk batiknya, Pekalongan dikenal sebagai KOTA BATIK. Julukan itu datang dari suatu tradisi yang cukup lama berakar di Pekalongan. Selama periode yang panjang itulah, aneka sifat, ragam kegunaan, jenis rancangan, serta mutu batik ditentukan oleh iklim dan keberadaan serat-serat setempat, faktor sejarah, perdagangan dan kesiapan masyarakatnya dalam menerima paham serta pemikiran baru.

Batik yang merupakan karya seni budaya yang dikagumi dunia, diantara ragam tradisional yang dihasilkan dengan teknologi celup rintang, tidak satu pun yang mampu hadir seindah dan sehalus batik Pekalongan.

tugas IBD

1. Istilah lain dari pengetahuan budaya adalah…

A. The Humanities

2. IBD dikembangkan di Indonesia sebagai pengganti istilah…

C. Basic Humanities

3. Tujuan IBD adalah…

D. Mengembangkan kepribadian mahasiswa dengan cara memperluas wawasan pemikirannya serta kemampuan kritikalnya terhadap masalah-masalah budaya sehingga daya tanggap, persepsi dan penalaran mengenai lingkungan budaya manusia dapat menjadi lebih manusiawi

4. Dengan mempelajari IBD para mahasiswa diharapkan dapat menemukan…

D. Berbagai sikap, nilai harga diri dan sifat kemanusiaan yang sangat bermanfaat untuk memperdalam dan memperluas persepsi, tanggapan, wawasan dan penalaran sehingga mampu memperluas budi pekertinya dan tanggap terhadap masalah – masalah budaya disekitarnya

5. IBD adalah…

C. Pengetahuan yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep – konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah – masalah manusia dan budaya

6. Masalah budaya dalam kajian IBD adalah…

B. Masalah – masalah perubahan system nilai budaya

7. Masalah kemanusiaan dalam kajian IBD adalah…

C. Masalah mengenai akiabat negative dari perubahan system nilai budaya

8. IBD dapat digolongkan dalam ilmu pengetahuan…

B. Budaya ( The Humanities )

9. Daya rasa ( perasaan ) di dalam diri manusia itu ada dua macam yaitu…

D. Perasaan inderawi dan perasaan rohani

10. Perasaan rohani adalah perasaan luhur yang hanya terdapat pada manusia seperti di bawah ini, kecuali…

D. Perasaan takut

11. Apabila seseorang memiliki kelebihan pada dirinya ia merasa tinggi, angkuh dan sombong, sebaliknya apabila ada kekurangannya pada dirinya ia merasa rendah diri. Hal ini berkaitan dengan perasaan luhur yang terdapat pada manusia yaitu…

C. Perasaan diri

12. Seseorang merasa senang atau puas apabila ia dapat mengetahui sesuatu, sebaliknya tidak senang atau tidak puas apabila ia tidak berhasil mengetahui sesuatu. Hai ini berkaitan dengan perasaan luhur yang terdapat pada manusia yaitu…

D. Perasaan intelektual

13. Orang yang lebih dikendalikan oleh Id nya disbanding super egonya adalah…

C. Orang yang senang dengan penyimpangan nilai – nilai masyarakat

14. Yang disebut dengan kepribadian eksekutif adalah… B. Ego

15. Manusia disebut makhluk ekologi karena…

C. Manusia mempunyai sifat alamiah tunduk pada hukum alamiah pula

16. Menurut Selo Soemarjan kebudayaan adalah…

A. Semua hasil karya, rasa dan karsa

17. Yang termasuk culture determinism adalah…

A. Kota pariwisata adalah Bali, Jakarta, Bandung

18. Kebudayaan sebagai super-organik, maksudnya…

C. Kebudayaan turun temurun dari generasi ke generasi hidup terus

19. Wujud kebudayaan adalah…

B. Kompleks gagasan, kompleks aktifitas, dan wujud sebagai benda

20. Kompleks aktifitas dari sistim religi adalah…

A. Upacara – upacara keagamaan

21. Kompleks aktifitas dari sistim ekonomi adalah…

C. Kegiatan jual beli

22. Wujud sebagai benda dari system kesenian adalah…

B. Barang – barang hasil seni seperti ukiran, lukisan dsb

23. Unsur kebudayaan besar ( cultural universal ) dapat dijabarkan menjadi bagian yang lebih kecil, yaitu bagian yang paling kecil yang sudah tidak bisa dibagi-bagi lagi disebut…

C. Items

24. Bila kebudayaan asli cukup kuat, pengaruh kebudayaan luar lemah maka...

A. Kebudayaan asli tetap bertahan

25. Konsekwensi Indonesia yang terletak pada posisi silang terhadap kebudayaan adalah… C. Memperoleh pengaruh luar yang besar

26. Kesenian adalah hasil manusia sebagai…

B. Homo aesteticus

27. Percampuran antara dua kebudayaan atau lebih tetapi unsur – unsur kebudayaan yang tercampurkan masih nampak ini disebut…

B. Akulturasi

28. Dibawah ini adalah macam – macam norma, kecuali…

D. Hukum ( volkways )

29. Secara umum sifat kebudayaan adalah…

B. Dinamis

30. Kebudayaan akan cenderung berubah lebih cepat apabila…

A. Lingkungan alam dan fisik tempat mereka hidup berada di masyarakat yang hidupnya terbuka, yang berada dalam jalur – jalur hubungan dengan kebudayaan lain

31. Unsur kebudayaan yang sulit diterima oleh sesuatu masyarakat adalah…

A. Unsur – unsur yang menyangkut sistim kepercayaan seperti ideology

32. Perasaan sastra dalam perkuliahan IBD adalah…

C. Sastra digunakan sebagai alat sekaligus sumber belajar untuk membahas masalah – masalah kemanusiaan agar mahasiswa menjadi lebih humanus

33. Nilai – nilai yang diperoleh pembaca lewat sastra adalah sebagai berikut, kecuali…

D. Sastra memberikan keinsyafan individu

34. Novel yang berlatar belakang perjuangan mengungkapkan jiwa – jiwa kepahlawanan, impian – impian, harapan – harapan, aspirasi – aspirasi dari generasi terdahulu yang seharusnya dapat dihayati oleh generasi kini, maka novel – novel tersebut memberikan kepada pembacanya…

B. Warisan cultural

35. Cinta tingkat tertinggi adalah…

A. Cinta kepada Tuhan, Rosulullah dan jihad di jalan Allah

36. Pada hakekatnya orang bersembahyang itu…

D. A, B dan C betul semua

37. Orang mempunyai belas kasihan terhadap sesama atas dasar…

B. Penderitaan yang dialami

38. Hikmah cinta adalah seperti tersebut dibawah ini, kecuali…

D. Kesempatan emas buat pemuda pemudi untuk memadu cinta

39. Kemampuan negative bagi seniman yang mampu menciptakan keindahan adalah seperti tersebut dibawah ini, kecuali…

D. Merasa puas dengan hasil karyanya

40. Di bawah ini termasuk nilai ektrinsik, kecuali…

D. Dipakai buat menutup aurat, melindungi dari rasa panas dan dingin

41. Teori subyektif pada keindahan mengatakan…

A. Ciri – ciri menyatakan keindahan itu tidak ada, yang ada hanya perasaan dalam diri seseorang yang mengamati saja

42. Unsur pertentangan yang mengandung pengertian serasi adalah…

D. Dosenya menerangkan, mahasiswanya mendengarkan sehingga tercipta suasana yang serasi dikelas itu

43. Alasan / motivasi dan tujuan seniman menciptakan keindahan adalah seperti tersebut dibawah ini, kecuali…

D. Karena untuk menghibur dirinya bagi para seniman agar hidupnya tidak jenuh

44. Phobia adalah merupakan sakit… B. Psikis

45. Claustrophobia adalah… A. Rasa takut terhadap ruangan tertutup

46. Sebab – sebab timbulnya kekalutan mental adalah seperti tersebut dibawah ini, kecuali… D. Cara mengatur pola makan yang salah

47. Kekalutan mental bisa mendorong seseeorang kearah positif yaitu seperti…

A. Usaha agar tetap survive dalam hidupnya seperti dengan melakukan solat tahajud

48. Agresi adalah bentuk – bentuk frustasi yang ditandai dengan…

A. Berupa kemarahan yang meluap – luap akibat emosi yang tidak terkendali

49. Pada jaman teknologi modern sekarang ini berita penderitaan cepat tersebar luas kepenjuru dunia, hal ini…

A. Menguntungkan karena dapat menyentuh hati pembaca atau pendengarnya

Rabu, 18 November 2009

IBD

SONGKET PALEMBANG

Songket tradisional adalah salah satu bagian dari hasil budaya masyarakat Palembang. Menurut catatan sejarah kesultanan Palembang, kepandaian bertenun songket selalu diwariskan secara turun temurun melalui pembelajaran informal. Pada tahun 1980-an sebahagian besar masyarakat Palembang memiliki keahlian bertenun. Bila diamati dari segi bentuk, kain songket membawa pengaruh akulturasi dari budaya Kong Hu Chu dan India. Hal ini dapat terlihat dari gaya ragam hias dan warna yang ditampilkan pada struktur benang lungsi dan pakan.

Kota Palembang memiliki sejarah yang panjang, mulai dari kejayaan kerajaan Sriwijaya sampai Kesultanan Palembang Darussalam. Kerajaan Sriwijaya pada masa kejayaannya sekitar tahun 683 Masehi menjadi cikal bakal kota yang terletak di tepian sungai Musi ini. Banyak peninggalan tak ternilai berasal dari kerajaan terkenal itu, salah satunya adalah budaya wastra (kain) yang indah yaitu songket.

Gemerlap dan kilauan emas yang terpancar pada kain tenun ini, memberikan nilai tersendiri. Rangkaian benang yang tersusun dan teranyam lewat pola simetris membuat kain ini dibuat dengan keterampilan masyarakat yang memahami berbagai cara untuk membuat kain bermutu, serta yang sekaligus mampu menghias kain dengan beragam desain.

Songket tradisional ini dibuat dengan ketrampilan masyarakat yang memahami berbagai cara untuk membuat kain bermutu, serta yang sekaligus mampu menghias kain dengan beragam desain. Kemampuan ini biasanya diwariskan secara turun-temurun.

Sewet Songket atau kain Songket adalah kain yang biasanya dipakai atau dikenakan sebagai pembalut bagian bawah pakaian wanita. Biasanya sewet ini berteman dengan kemban atau selendang.
Bahan sewet songket ini ditenun secara teliti dengan mengunakan bahan benang sutera. Ciri khas songket Palembang terletak pada kehalusan dan keanggunannya sangat menonjol serta motifnya tidak sama dengan motif kain songket daerah lain
Oleh karena itu sewet songket ini dibuat dengan bahan halus dan seni yang tinggi maka harganya cukup mahal. Biasanya dipakai pada waktu tertentu pada saat perayaan perkawinan.
Pakaian songke lengkap yang dikenakan oleh pengaten, biasanya dengan Aesan Gede (kebesaran) Aesan Pengganggon (Paksangko) Aesan. Selendang Mantri Aesan Gandek (Gandik) dan sebagainya.

Sehelai kain tenun songket dari Palembang, mempunyai banyak makna, dan mempunyai nilai sejarah. Kain ini mungkin sebagai peninggalan nenek moyang si pemilik yang ditenun selama satu tahun, mungkin sebagai mahar, mungkin sebagai busana kebesaran adat pengantin , mungkin sebagai benda koleksi keluarga yang berharga, dan masih banyak lagi kemungkinan yang lain.

Kain tenun songket Palembang ini, sangat menarik, ditelusuri sejarahnya, maknanya, dan teknik pembuatannya. Kalau kita menilik warnanya yang khas, dan motif hiasnya yang indah, pastilah kita berkesimpulan bahwa songket ini dibuat dengan keterampilan, ketelatenan, kesabaran,dan daya kreasi yang tinggi.

Seperti seni tenun daerah lainnya di nusantara kita, kain songket Palembang ini tidak diketahui persis kapan mulai dikerjakan. Untuk keperluan busana, mula-mula digunakan sebagai bahan dasar kulit kayu, kemudian rajutan daun-daun, dan yang terakhir ditanam kapas untuk dibuat benang sebagai bahan dasar kain tenun.

Palembang yang terletak di pulau Sumatra bagian Selatan ini dahulu menjadi pusat kerajaan Sriwijaya yang menjadi pintu masuk berbagai budaya dari manca negara. Mula-mula datang bangsa Portugis, kemudian bangsa India yang terakhir bangsa Cina. Pada abad ketujuh sampai abad kesebelas Masehi kerajaan Sriwijaya sedang jaya – jayanya dengan pelabuhannya yang ramai. Kecuali menjadi pusat perdagangan, Sriwijaya juga menjadi pusat agama Budha. Pusat kerajaan Sriwijaya, sekarang kota Palembang, merupakan tempat persinggahan pendeta dari Srilangka dan India yang akan pergi ke Cina. Itulah sebabnya budaya India ikut mempengaruhi motif hias kain songket Palembang.

Disamping itu pengaruh dari Cina juga melekat pada seni tenun Palembang terutama pada penerapan warna merah dan warna keemasan pada kain songket.

Karena adanya pengaruh budaya dari luar tadi terciptalah kain tenun dari Sriwijaya yang sangat indah dan bervariasi. Dengan demikian kain songket ini termasuk hasil budaya daerah yang harus dilestarikan.

asal-usul makanan khas palembang

Menurut sejarahnya, pempek telah ada di Palembang sejak masuknya perantau Cina ke Palembang, yaitu di sekitar abad ke-16, saat Sultan Mahmud Badarudin II berkuasa di Kerajaan Sriwijaya. Nama empek-empek atau pempek diyakini berasal dari sebutan “apek”, yaitu sebutan untuk lelaki tua keturunan Cina.

Berdasar cerita rakyat, yang dimuat kompas, sekitar tahun 1617 seorang “apek” berusia 65 tahun yang tinggal di daerah Perakitan (tepian Sungai Musi) merasa prihatin menyaksikan tangkapan ikan yang berlimpah di Sungai Musi. Hasil tangkapan itu belum seluruhnya dimanfaatkan dengan baik, hanya sebatas digoreng dan dipindang.

Si Apek kemudian mencoba alternatif pengolahan lain. Ia mencampur daging ikan giling dengan tepung tapioka, sehingga dihasilkan makanan baru. Makanan baru tersebut dijajakan oleh para apek dengan bersepeda keliling kota. Oleh karena penjualnya dipanggil dengan sebutan “pek … apek”, maka makanan tersebut akhirnya dikenal sebagai empek-empek atau pempek.

Pempek sendiri memiliki banyak jenis. Dengan bahan dasar yang hampir sama, di kota asalnya di kenal berbagai jenis pempek yang dihidangkan dengan cuka Dintaranya pempek jenis polos yang terdiri dari : pempek lenjer yang berbentuk panjang,pempek keriting, pempek kulit dan Pempek Adaan yang berbentuk bulat. Selain itu terdapat pempek isi, yakni : pempek telor yang berukuran kecil, pempek kapal selam berukuran besar, pempek pistel, dan pempek tahu. Ada juga pempek yang dipanggang, seperti pempek panggang itu sendiri, otak-otak dan lenggang.

Selain Pempek, Palembang memiliki makanan khas lainnya yang berbahan dasar ikan, seperti model, tekwan, serta Kerupuk Palembang yang dikenal dengan sebutan kemplang yang terdiri dari kemplang goreng, panggang dan kerupuk. Dan beberapa daerah lainya di Sumatera Selatan, seperti Ogan Ilir dan Ogan Komering Ilir yang terkenal dengan ikan asin dan ikan salainya, dan didaerah lainnya dikenal juga masakan Pindang.

Kesenian Palembang

TARI TANGGAI

Tari tanggai biasanya di pakai untuk menyambut tamu pada acara pernikahan atau acara-acara resmi. Tarian ini umumnya di bawakan oleh lima orang dengan memakai pakaian khas daerah Palembang seperti kalung,kain songket,sanggul,rampai,tajuk cempako,kuku yang terbuat dari lempengan baja,pending, dodot, dll.

TARI GENDING SRIWIJAYA

Tari ini ditampilkan secara khusus untuk menyambut tamu-tamu agung seperti kepala negara, duta besar dan tamu-tamu agung lainnya. Penari gending sriwijaya dibawakan oleh 13 orang yang terdiri dari

satu orang penari utama pembawa tepak (tepak,kapur,sirih)

dua orang penari pembawa peridon(perlengkapan tepak)

enam orang penari pendamping(tiga di kanan dan tiga dikiri)

satu orang pembawa payung kebesaran(di bawa oleh pria),

satu orang penyanyi Gending Sriwijaya dan dua orang pembawa tombak( pria).

TARIAN TENUN SONGKET

Tarian ini menggambarkan kegiatan remaja putri khususnya dan para ibu rumah tangga di Palembang pada umumnya memanfaatkan waktu luang dengan menenun songket.

TARI RODAT CEMPAKO

Tari ini merupakan tari rakyat bernafaskan islam. Gerak dasar tari ini di ambil dari negara asalnya Timur Tengah, seperti hal nya dengan Tari Dana Japin dan Tari Rodat Cempako sangat dinamis dan lincah.

TARI MEJENG BESUKO

Tari ini melukiskan kesukariaan para remaja dalam suatu pertemuan mereka. Mereka bersenda gurau mengajuk hati lawan jenisnya. Bahkan tidak jarang diantara mereka ada yang jatuh hati dan menemukan jodohnya melalui pertemuan seperti ini.

DUK MULUK

Adalah salah satu kesenian tradisional yang ada di SUMSEL khusus nya kota Palembang. Biasanya di pentaskan pada acara yang bersifat menghibur seperti pada acara pernikahan dll.

JIDUR

Merupakan salah satu musik tradisional palembang yang menggunakan alat seperti terompet, tombon,dan drum yang mempunyai suara khas.

REBANA

Merupakan musik tradisional yang menggunakan alat kulit kambing yang di ikat kan di kayu, biasanya pemain terdiri dari 10-12 orang. Rebana ini juga biasanya dipakai untuk arakan pengantin dll.

WAYANG PALEMBANG

Wayang palembang memiliki bentuk fisik dan sumber cerita yang sama dengan wayang purwa dari Jawa. Bedanya, wayang Palembang dimainkan dengan menggunakan bahasa Melayu Palembang, dan perilaku tokoh-tokohnya lebih bebas.

Sejarah Palembang

Kota palembang adalah salah satu kota besar di Indonesia sekaligus merupakan ibu kota dari provinsi Sumatera Selatan. kota palembang adalah kota terbesar kedua Sumatera setelah Medan. kota ini dulu pernah menjadi pusat kerajaan Sriwijaya. salah satu peninggalan nya seperti Bukit Siguntang yang terletak di Palembang Barat hingga saat ini masih di keramat kan oleh masyarakat Palembang.

kota ini memiliki komunitas Tionghoa yang besar. makanan seperti empek-empek dan tekwan yang terbuat dari ikan mengesankan ” chinese taste” yang sangat kental dengan masyarakat palembang.

Palembang merupakan kota tertua di Indonesia, hal ini di dasarkan pada prasasti Kedukan Bukit yang di ketmukan di Bukit Siguntang, sebelah barat kota Palembang.

kota palembang juga di percayai oleh masyarakat Melayu sebagai tanah leluhurnya. karena menurut sejarah bahwa di kota palembang inilah tempat turunnya cikal bakal raja Melayu pertama yaitu Parameswara yang turun dari Bukit Siguntang.

mayoritas masyarakat Palembang menganut agama islam, selain itu pula terdapat juga masyarakat yang menganut agama Protestan,Budha,Hindu,Konghucu dan katholik.

Kota Palembang termasuk kota yang memiliki kesenian atau kebudayaan yang unik seperti :

1.Kesenian Dul Muluk (pentas drama tradisional khas Palembang)

2.Tari-tarian seperti Gending Sriwijaya yang diadakan sebagai penyambutan kepada tamu-tamu, dan tari Tanggai yang diperagakan dalam resepsi pernikahan

3.Lagu Daerah seperti Dek Sangke, Cuk Mak Ilang, Dirut, dan Ribang Kemambang

4.Rumah Adat Palembang adalah Rumah Limas dan Rumah Rakit

Kamis, 12 November 2009

IBD

Ilmu Budaya Dasar

Tugas ISBD

1.1 Latar Belakang
Kehidupan sekarang ini penuh dengan permasalahan-permasalahan sosial yang kiranya selalu muncul setiap saat. Permasalahan sosial yang sering kali mencuat ke permukaan masyarakat adalah kesenjangan sosial. Masalah ini bisa dikatakan menjadi masalah yang telah mendarah daging terutama dikalangan bangsa Indonesia dan secara khusus masyarakat perkotaan.
Kesenjangan sosial awalnya terbentuk karena adanya perbedaan. Contohnya perbedaan tingkat pendidikan, perbedaan tingkat pendapatan, pola pikirdan lain sebagainya.

PENGARUH KEBUDAYAAN INDONESIA TERHADAP KEBUDAYAAN ASING

PENGARUH KEBUDAYAAN INDONESIA TERHADAP KEBUDAYAAN ASING

PENGARUH BUDAYA BARAT DAN TIMUR TERHADAP KEBUDAYAAN INDONESIA

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

urbanisasi

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Latar belakang pembuatan makalah yang berjudul masyarakat perkotaan dan pedesaan ini adalah ditunjang oleh banyaknya persoalan-persoalan yang terjadi dalam masyarakat khususnya yang terjadi dalam masyarakat perkotaan.
Apabila kita berbicara tentang masyarakat, terutama jika mengemukakannya dari sudut antropologi, maka kita mempunyai kecenderungan untuk melihat 2 tipe masyarakat, yaitu masyarakat perkotaandan pedesaan.

Suku Batak

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari
Suku Batak
Rumah Batak Taman Mini Indonesia Indah

Jumlah populasi

k.l 4.000.000 jiwa.

Kawasan dengan jumlah penduduk yang signifikan
Sumatra Utara: 3.285.600 jiwa.
Bahasa
Batak: Toba, bahasa Mandailing-Angkola, bahasa Karo, dan bahasa Simalungun, bahasa Pakpak-Dairi, dan bahasa Nias.
Agama
Kristen, Islam, dan Parmalim.
Kelompok etnis terdekat
suku Gayo, suku Alas

Batak adalah nama sukubangsa di Indonesia. Suku ini bermukim di Sumatra Utara. Suku Batak ini berdiaspora ke berbagai penjuru Indonesia. Diperkirakan di wilayah Jabodetabek saja sudah mencapai lebih dari 1.000.000 jiwa. Sudah lebih banyak orang Batak yang bermukim di luar daerah asalnya yakni Tapanuli, Simalungun, dan Karo. Sebagian bermukim di Medan dan sekitarnya, sehingga secara nasional orang Batak sering disebut sebagai orang Medan.

Mayoritas orang Batak beragama Kristen dan sebagian lagi beragama Islam. Tetapi dan ada pula yang menganut agama Malim (pengikutnya biasa disebut dengan Parmalim ) dan juga penganut kepercayaan animisme (disebut Pelebegu atau Parbegu), walaupun kin jumlah penganut Parmalim dan Pelebegu ini sudah semakin berkurang.

Sub-suku

Suku Batak terdiri dari beberapa sub-suku yang berdiam di wilayah Sumatera Utara yakni sebagian besar di Tapanuli, Simalungun, Karo, serta Nias dan Fakfak-Dairi -- kedua wilayah terakhir ini termasuk wilayah Tapanuli. Sub-suku Batak terdiri dari Toba yang bermukim di wilayah Toba yakni Toba, Silindung, Samosir, dan Humbang; Angkola yang bermukim di wilayah Tapanuli Selatan, Sipirok dan Angkola; Mandailing yang bermukim di Mandailing Natal; Simalungun di daerah Simalungun; Karo di daerah Karo; Fakfak Dairi bermukim di daerah Fakfak dan Dairi. Bahkan dalam pelajaran antropologi yang diajarkan di sekolah-sekolah bahwa Nias, Alas dan Gayo dikelompokkan dalam sub Suku Batak. Dalam dua dasawarsa terakhir ini terbentuk pula sub-suku Batak lainnya, yakni Batak Pesisir. Ir. Akbar Tanjung, mantan Ketua DPR-RI, pertama kali menjadi ketua Persatuan Batak Pesisir ini. Sub-suku Batak Peisisir ini bermukim (tersebar) di daerah-daerah pesisir pantai Timur Sumatera yakni Asahan, Labuhan Batu dan Rantau Prapat, juga pantai Barat Sumatera yakni Sibolga dan Barus di Tapanuli Tengah.

Pengelompokan sub suku Batak dilakukan berdasarkan wilayah pemukimannya, darpada karena garis keturunan.

Ada dua bentuk kekerabatan bagi suku Batak, yakni berdasarkan garis keturunan (genealogi) dan berdasarkan wilayah pemukiman (teritorial).

Bentuk kekerabatan berdasarkan garis keturunan (genealogi) terlihat dari silsilah marga mulai dari Si Raja Batak, dimana semua sub suku Batak memiliki marga. Sedangkan kekerabatan berdasarkan wilayah pemukiman (teritorial) terlihat dari terbentuknya, tersepakatinya suatu tradisi adat-istiadat di setiap wilayah. Bagi orang Batak yang bermukim di wilayah Mandailing, misalnya, terbentuk suatu tradisi adat-istiadatyang memiliki corak tersendiri dibandingkan dengan adat-istiadat suku Batak yang bermukim di Toba, walaupun marga-marga yang bermukim di Mandailing dan Toba banyak yang sama, seperti marga Siregar, Lubis, Hasibuan dan Batubara.

Untuk menggambarkan betapa kedua bentuk kekerabatan ini memiliki daya rekat yang sama, ada perumpamaan dalam bahasa Batak Toba berbunyi demikian: Jonok dongan pertubu jonokan do dengan parhundul. Artinya, semua orang mengakui bahwa hubungan garis keturunan adalah sudah pasti dekat, tetapi dalam sistem kekerabatan Batak lebih dekat lagi hubungan karena bermukim di satu wilayah.

Jadi pembagian sub-suku Batak lebih ditentukan oleh wilayah pemukiman atau Bius daripada garis keturunan silsilah.


Rumah Adat Batak Toba

[sunting] Falsafah dan Sistem Kemasyarakatan

Masyarakat Batak memiliki falsafah, azas sekaligus sebagai struktur dan sistem dalam kemasyarakatan (kekerabatan)nya yakni Tungku nan Tiga atau dalam Bahasa Batak Toba disebut Dalihan na Tolu, yakni Hula-hula, Dongan Tubu dan Boru ditambah Sihal-sihal.

Hulahula adalah pihak keluarga dari isteri. Hula-hula ini menempati posisi yang paling dihormati dalam pergaulan dan adat-istiadat Batak (semua sub-suku Batak). Sehingga kepada semua orang Batak dipesankan harus hormat kepada Hulahula (Somba marhula-hula).

Dongan Tubu disebut juga Dongan Sabutuha adalah saudara laki-laki satu marga. Arti harfiahnya lahir dari perut yang sama. Mereka ini seperti batang pohon yang saling berdekatan, saling menopang, walaupun karena saking dekatnya terkadang saling gesek. Namun pertikaian tidak membuat hubungan satu marga bisa terpisah. Diumpamakan seperti air yang dibelah dengan pisau, kendati dibelah tetapi tetap bersatu. Namun demikian kepada semua orang Batak (berbudaya Batak) dipesankan harus bijaksana kepada saudara semarga. Diistilahkan, manat mardongan tubu.

Boru adalah pihak keluarga yang mengambil isteri dari suatu marga (keluarga lain). Boru ini menempati posisi paling rendah sebagai 'parhobas' atau pelayan baik dalam pergaulan sehari-hari maupun (terutama) dalam setiap upacara adat. Namun walaupun burfungsi sebagai pelayan bukan berarti bisa diperlakukan dengan semena-mena. Melainkan pihak boru harus diambil hatinya, dibujuk, diistilahkan: Elek marboru.

Falsafah dan Sistem Kemasyarakatan

Masyarakat Batak memiliki falsafah, azas sekaligus sebagai struktur dan sistem dalam kemasyarakatan (kekerabatan)nya yakni Tungku nan Tiga atau dalam Bahasa Batak Toba disebut Dalihan na Tolu, yakni Hula-hula, Dongan Tubu dan Boru ditambah Sihal-sihal.

Hulahula adalah pihak keluarga dari isteri. Hula-hula ini menempati posisi yang paling dihormati dalam pergaulan dan adat-istiadat Batak (semua sub-suku Batak). Sehingga kepada semua orang Batak dipesankan harus hormat kepada Hulahula (Somba marhula-hula).

Dongan Tubu disebut juga Dongan Sabutuha adalah saudara laki-laki satu marga. Arti harfiahnya lahir dari perut yang sama. Mereka ini seperti batang pohon yang saling berdekatan, saling menopang, walaupun karena saking dekatnya terkadang saling gesek. Namun pertikaian tidak membuat hubungan satu marga bisa terpisah. Diumpamakan seperti air yang dibelah dengan pisau, kendati dibelah tetapi tetap bersatu. Namun demikian kepada semua orang Batak (berbudaya Batak) dipesankan harus bijaksana kepada saudara semarga. Diistilahkan, manat mardongan tubu.

Boru adalah pihak keluarga yang mengambil isteri dari suatu marga (keluarga lain). Boru ini menempati posisi paling rendah sebagai 'parhobas' atau pelayan baik dalam pergaulan sehari-hari maupun (terutama) dalam setiap upacara adat. Namun walaupun burfungsi sebagai pelayan bukan berarti bisa diperlakukan dengan semena-mena. Melainkan pihak boru harus diambil hatinya, dibujuk, diistilahkan: Elek marboru.

Namun bukan berarti ada kasta dalam sistem kekerabatan Batak. Sistem kekerabatan Dalihan na Tolu adalah bersifak kontekstual. Sesuai konteksnya, semua masyarakat Batak pasti pernah menjadi Hulahula, juga sebagai Dongan Tubu, juga sebagai Boru. Jadi setiap orang harus menempatkan posisinya secara kontekstual.

Sehingga dalam tata kekerabatan, semua orang Batak harus berperilaku 'raja'. Raja dalam tata kekerabatan Batak bukan berarti orang yang berkuasa, tetapi orang yang berperilaku baik sesuai dengan tata krama dalam sistem kekerabatan Batak. Maka dalam setiap pembicaraan adat selalu disebut Raja ni Hulahula, Raji no Dongan Tubu dan Raja ni Boru.

Kepercayaan

Orang Batak telah menganut agama Kristen Protestan yang disiarkan oleh misionaris Jerman, Nomensen pada tahun 1863. Gereja yang pertama berdiri adalah HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) di huta Dame, Tarutung. Saat ini gereja HKBP telah tersebar di seluruh Indonesia. Sebelum suku Batak menganut agama Kristen Protestan, mereka mempunyai sistem kepercayaan dan religi tentang Mulajadi Nabolon yang memiliki kekuasaan di atas langit dan pancaran kekuasaan-Nya terwujud dalam Debata Natolu.

Menyangkut jiwa dan roh, suku Batak mengenal tiga konsep, yaitu:

  • Tondi : adalah jiwa atau roh seseorang yang merupakan kekuatan, oleh karena itu tondi memberi nyawa kepada manusia. Tondi di dapat sejak seseorang di dalam kandungan.Bila tondi meninggalkan badan seseorang, maka orang tersebut akan sakit atau meninggal, maka diadakan upacara mangalap (menjemput) tondi dari sombaon yang menawannya.
  • Sahala : adalah jiwa atau roh kekuatan yang dimiliki seseorang. Semua orang memiliki tondi, tetapi tidak semua orang memiliki sahala. Sahala sama dengan sumanta, tuah atau kesaktian yang dimiliki para raja atau hula-hula.
  • Begu : adalah tondi orang telah meninggal, yang tingkah lakunya sama dengan tingkah laku manusia, hanya muncul pada waktu malam.

Demikianlah religi dan kepercayaan suku Batak yang terdapat dalam pustaha. Walaupun sudah menganut agama Kristen dan berpendidikan tinggi, namun orang Batak belum mau meninggalkan religi dan kepercayaan yang sudah tertanam di dalam hati sanubari mereka. Ada juga kepercayaan yang ada di Tarutung tentang ular (ulok) dengan boru Hutabarat bahwa boru Hutabarat tidak boleh dikatakan cantik di Tarutung. Apabila dikatakan cantik maka nyawa wanita tersebut tidak akan lama lagi, menurut kepercayaan orang itu.

[sunting] Tarombo

Falsafah

Secara umum, suku Batak memiliki falsafah adat Dalihan Natolu yakni Somba Marhulahula (hormat pada pihak keluarga ibu/istri), Elek Marboru (ramah pada keluarga saudara perempuan) dan Manat Mardongan Tubu (kompak dalam hubungan semarga). Dalam kehidupan sehari-hari, falsafah ini dipegang teguh dan hingga kini menjadi landasan kehidupan sosial dan bermasyarakat di lingkungan orang Batak.

[sunting] Sejarah

Sejarah Batak modern dipengaruhi oleh dua agama Samawi yakni Islam dan Kristen. Islam makin kuat pengaruhnya pada saat Perang Padri, melalui aktivitas dakwah yang dilakukan para da'i dari Minangkabau. Perluasan dan penyebaran agama Islam hingga memasuki daerah Tapanuli Utara dibawah pimpinan Tuanku Rao, namun tidak berhasil. Islam hanya berkembang di kalangan Mandailing dan sebagian Angkola.

Agama Kristen baru berpengaruh di kalangan Angkola dan Batak setelah beberapa kali misi Kristen yang dikirimkan mengalami kegagalan. Misionaris yang paling berhasil adalah I.L. Nommensen yang melanjutkan tugas pendahulunya menyebarkan agama Kristen di wilayah Tapanuli. Ketika itu, masyarakat Batak yang berada di sekitar Tapanuli, khususnya Tarutung, diberi pengajaran baca tulis, keahlian bertukang untuk kaum pria dan keahlian menjahit serta urusan rumah tangga bagi kaum ibu. Pelatihan dan pengajaran ini kemudian berkembang hingga akhirnya berdiri sekolah dasar dan sekolah keahlian di beberapa wilayah di Tapanuli. Nommensen dan penyebar agama lainnya juga berperan besar dalam pembangunan dua rumah sakit yang ada saat ini, RS Umum Tarutung dan RS HKBP Balige, yang sudah ada jauh sebelum Indonesia merdeka.

Sementara itu, perkembangan pendidikan formal juga terus berlanjut hingga dibukanya sebuah perguruan tinggi bernama Universitas HKBP I.L. Nommensen (UHN) tahun 1954. Universitas ini menjadi universitas swasta pertama yang ada di Sumatra Utara dan awalnya hanya terdiri dari Fakultas Ekonomi dan Fakultas Theologia.

[sunting] Kontroversi

ng] Kontroversi

Manusia Sebagai Makhluk Budaya

1.Budaya atau Kebudayaan
perbedaan mendasar antara manusia dengan makhluk yang lain (hewan) ialah bahwa manusai adalah makhluk berbudaya, hal ini disebabkan karena manusia diberi anugrah yang sangat berharga oleh Tuhan, yaitu budi atau pikiran.dengan kemampuan budi atau akal itulah manusia dapat menciptakan kebudayaanyang menyebabkan kehidupannya sangat jauh berbeda dengan kehidupan hewan. Oleh karena, itu manusia sering disebut makhluk sosialbudaya, artinya makhlukyang harus hidup bersama dengan manusia lain dalam satu kesatuan yang disebut dengan masyarakat.disamping itu, manusia adalah makhluk yang menciptakan kebudayaan dengan berbudaya itulah manusia berusaha mencukupi kebutuhan hidupnya.
Manusia tidak dapat dilepas dari kebudayaan, dimana ada manusia disitu ada kebudayaan.kapankah kebudayaan mulai ada dimuka bumi?bersamaan dengan mulai adanya umat manusia dimuka bumi ini.Prof.Dr.Koentjaraningrat mencantumkan tujuh macam perbedaan antara manisai dengan hewan apabila ditinjau dari perilakunya, yaitu:
1) Sebagian besar dari perilaku manusia dikuasai oleh akal;
2) Kehidupan manusia dimuka bumi ini hanya dimungkinkan dengan suatu sistam peralatan luas yang merupakan hasil akalnya;
3) Sebagian besar perilaku manusia harus dibiasakan dengan belajar;
4) Manusia mempunyai bahasa yang menyimpan seluruh tata kelakuannya didalam lambang-lambang vokal maupun tertulis;
5) Pengetahuan manusia bersifat akumulatif;
6) Sistem pembagian karja didalam manusia jauh lebih kompleks daripada dengan kelompok kawanan binatang;
7) Masyarakat menunjukkan suatu aneka warna yang besar;